Utang WIKA Dari Bank Melonjak Tajam, Sahamnya Dalam Tekanan


Berdasarkan  laporan keuangan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) selama kuartal pertama tahun 2015, tampak adanya peningkatan jumlah  utang baik pada jangka pendek hingga jangka panjang, namun peningkatan tersebut tidak sebanding dengan perolehan pendapatan perseroan pada periode sama yang tampak menunjukan penurunan.

Jumlah utang jangka pendek perusahaan konstruksi bangunan pelat merah  sepanjang kuartal pertama  melonjak hampir  46% menjadi Rp 1.72 triliun dari kuartal IV 2014 yang hanya sebesar Rp 928 miliar.  Utang tersebut diperoleh dari pinjaman  beberapa bank besar di Indonesia seperti Bank Mandiri, Bank BRI, Bank Exim, Bank DKI, Bank Permata, Bank Panin, dan HSBC.

Bank Exim atau PT Exim Bank Tbk memberikan tambahan pinjaman sebesar Rp 300 miliar dari pinjaman dikuartal IV 2014 yang hanya sebesar Rp 100 miliar atau melonjak 66.7%, Bank Mandiri atau PT Bank Mandiri (Persero)Tbk meningkatkan pinjaman menjadi Rp 200 miliar dari pinjaman dikuartal IV 2014 yang hanya sebesar Rp 105,9 miliar atau melesat  47.1% Disusul pada pemberian pinjaman dari Bank Exim atau PT Exim Bank Tbk yang meningkatkan pinjamannya menjadi Rp 126 miliar dari pinjaman dikuartal IV 2014 yang hanya sebesar Rp 39.9 miliar atau melambung tinggi sebesar 68%, sedangkan PT Bank DKI tampak menjadi pemberi pinjaman terbaru  terhadap perseroan yang sebesar Rp 45.45 miliar.

Namun pada pinjaman entitas anak perusahaan, pinjaman jangka pendek tampak menunjukan adanya peningatan signifikan namun tidak sebesar dari pinjaman induk perusahaan yang hanya sebesar 22.55% dengan menjadi Rp 719,59 miliar dari pinjaman pada kuartal IV 2014 yang hanya sebesar 557.3 miliar, dengan pinjaman kepada Bank Mandiri yang melonjak tajam sebesar 44.71% dengan menjadi Rp 459.42 miliar dari pinjaman pada kuartal IV 2014 yang hanya sebesar Rp 242.93 miliar.

Jika dilihat pada hasil kinerja secara keseluruhan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) pada Q1 2015 tampak menunjukan kinerja yang kurang optimal, dimana baik pada pendapatan akan penjualan bersih  merosot hampir 40% menjadi Rp 2 triliun dari pendapatan di Q4 2014 yang sebesar Rp 2.79 triliun. Demikian juga dengan perolehan laba perseroan selama Q1 yang tampak merosot dalam sebesar 63.63% yang menjadi Rp 66,59 miliar dari laba pada Q4 2014 yang sebesar Rp 183.10 miliar.

Apabila dibandingkan dengan Return on Asset WIKA pada Q1 2015, tampak perseroan harus mulai berhati-hati dalam pengelolaan kas dan melakukan pencarian dana, yang dikarenakan jumlah rasio aset perseroan tersebut yang berada dibawah 2% dan dikahwatirkan akan menganggu siklus kinerja keuangan perusahaan.

Dan jika dibandingkan dengan perusahan rifal sejenisnya baik pada PT PP (Persero) Tbk secara indikator EPS, ROA serta ROE, maka perolehan PTPP tampak lebih baik dari perolehan dari WIKA. Dimana WIKA secara EPS memperoleh sebesar 40.32X, ROA sebesar 1.51%, serta ROE sebesar 4.92%, namun perolehan PTPP pada EPS sebesar 77.96X, ROA sebesar 2.69%, serta ROE sebesar 13.65%.

Untuk perdagangan saham perseroan ini pada lantai bursa  Kamis ini (28/5), saham WIKA tampak dibuka pada level 3.185 poin dari posisi penutupan sebelumnya pada 3.175 poin, dengan range pergerakan normal hari ini pada 3.130 poin – 3.210 poin serta jumlah volume perdagangan sebesar 21.812 Lot Saham.  Saat ini saham WIKA tampak berada 3.165 poin.

Secara teknikal Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa pergerakan saham WIKA  berdasarkan pada indikator Stochastic D1 serta Bolinger Band 20 D1 diperdagangan bursa saham  hari ini tampak akan cenderung melanjutkan tren negatifnya dengan level supprt pada 3.060 poin dan resistance pada 3.110 poin.





Hendri Timotius/ VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Jul Allens

0 komentar:

Posting Komentar