ADRO Genjot Proyek PLTU, Laju Sahamnya dalam Tekanan Lanjutan


PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tengah menggenjot proyek pembangkit listrik dengan menargetkan dapat membangun setidaknya tujuh proyek PLTU berbahan bakar batu bara dengan kapasitas total 8.600 MW dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini sesuai dengan visi perseroan 5-6 tahun lalu dimana nantinya Adaro akan berkembang menjadi perusahaan dengan tiga bisnis inti yakni tambang, logistik, dan pembangkit. Adapun dari PLTU 8.600 MW itu, sebanyak 2.800 MW di antaranya sudah pasti dikerjakan Adaro yakni PLTU Batang, Jateng 2×1.000 MW, PLTU Mulut Tambang Tanjung, Kalsel 2×100 MW, dan PLTU Mulut Tambang Kaltim 2×300 MW. Proyek PLTU Batang 2×1.000 MW dikerjakan Adaro bersama J Power dan Itochu melalui perusahaan patungan, PT Bhimasena Power Indonesia (BPI).
Saat ini, kata pengusaha sukses yang akrab disapa Boy Thohir itu, proyek PLTU Batang sedang memasuki tahap akhir pembebasan lahan dengan target konstruksi pada akhir 2015 atau awal 2016. Sedang, PLTU Tanjung, Adaro berkonsorsium dengan Korean East West Power membentuk PT Tanjung Power Indonesia (TPI). Sementara, dua proyek lainnya berkapasitas 1.800 MW sedang dalam proses tender yakni PLTU Sumsel 9 2×600 MW dan Sumsel 10 1×600 MW.
ADRO mengalami kinerja keuangan yang tidak begitu bagus pada awal tahun ini. Hal tersebut terlihat dari perseroan yang membukukan penurunan laba bersih sebesar 54,91% menjadi US$ 59,48 juta dari yang sebelumnya mencapai US$ 131,93 juta. Anjloknya kinerja perseroan pada kuartal I-2015 disebabkan pasar batubara yang masih sulit karena harga masih mengalami tekanan akibat kondisi kelebihan pasokan yang terus berlanjut serta penurunan permintaan dari Tiongkok.
Selain itu, pendapatan usaha ADRO juga menurun 15,83% pada kuartal awal tahun ini menjadi US$ 710,94 juta dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai US$ 844,7 juta meskipun beban pokok pendapatan perseroan berhasil diturunkan sebesar 7,46% menjadi US$ 545,3 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 598,26 juta.
Akibatnya, laba kotor ADRO pun tergerus sebesar 32,78% menjadi US$ 165,64 juta dari periode yang sama tahun sebelumny yang mencapai US$ 246,43 juta. Total aset ADRO hingga Maret 2015 mencapai US$ 6,36 miliar atau turun 0,78% dibandingkan sebelumnya sebesar US$ 6,41 miliar.
Di sisi lain, ROA dan ROE ADRO pada kuartal I-2015 mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan kuartal yang sama pada tahun lalu dimana ROA pada kuartal awal tahun ini menjadi 1,61% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 3,35% dan ROE pada kuartal awal tahun 2015 menjadi 3,09% dari yang sebelumnya yang mencapai 6,59%. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja ADRO pada awal tahun ini tidak begitu baik dibandingkan tahun yang lalu.
Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Kamis (25/6/15) saham ADRO dibuka pada level 780 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 790 dan bergerak dalam kisaran 775-790 dengan volume perdagangan saham mencapai 7,43 juta lembar saham.
Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham ADRO sejak awal bulan Januari terlihat terus mengalami tekanan namun saat ini dalam upaya pertahankan tren positif. Terpantau indikator MA sudah bergerak flat dan pola White Marubozu menembus Middle Bolinger Band. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak ke area jenuh beli setelah sebelumnya berada pada area tengah.
Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak naik yang menunjukan pergerakan ADRO dalam potensi pertahankan penguatan terbatas. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju ADRO masih akan dalam tren sideways dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakan ADRO. Rekomendasai Trading pada target level resistance di level Rp890 hingga target support di level Rp720



Regi Fachriansyah/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

0 komentar:

Posting Komentar