Evaluasi IHSG Mei 2015: Upaya Rebound Terkendala Pelemahan Rupiah


Pergerakan IHSG sepanjang bulan Mei 2015 terpantau bergerak mengalami pergerakan Rebound terbatas mencoba menutup gap pelemahan yang terjadi saat bulan April dimana merupakan perdagangan bulanan terburuk sejak 6 bulan terakhir. Namun usaha rebound tersebut terkendala dengan adanya sentimen negatif pelemahan tajam rupiah terhadap dollar AS menyusul statment tentang suku bunga acuan The Fed AS.
IHSG sepanjang Mei alami penguatan 2.5% ke level 5,216.3. Secara sektoral pada bulan Mei tercatat sektor Agrikultur menopang pergerakan IHSG dengan alami lonjakan paling tinggi sebesar 15.69 persen dan Industri Dasar juga alami penguatan sebesar 6.54 persen.
Sector change mei
Sementara secara jumlah transaksi, pada bulan Mei investor asing melakukan aksi beli sebesar 13.8 miliar lot saham atau senilai 39.2 triliun rupiah dan aksi jual sebanyak 15.86 miliar lot saham senilai 44.3 triliun rupiah. Sementara untuk investor domestik melakukan aksi beli sebanyak 68 miliar lot saham senilai 54 triliun rupiah dan aksi jual sebanyak 66 miliar lot saham senilai 49.59 triliun rupiah. Pada bulan Mei investor asing mencatatkan net sell mencapai 4 triliun rupiah.
LQ 45 Top Gainers
Top gainer mei
LQ 45 Top Losers
Top Loser mei
Adapun sentimen fundamental yang mempengaruhi pergerakan IHSG sepanjang bulan Mei antara lain :
  • Belum maksimalnya belanja infrastruktur pemerintah, investor asing menunggu realisasi pemerintah Indonesia untuk membangun infrastruktur. Ada sejumlah proyek infrastruktur yang sedang ditunggu investor asing. Proyek infrastruktur itu mulai dari proyek BATAN, jalan tol, pembangkit listrik, bandara, dan pelabuhan.
  • Badan Pusat Statistik melaporkan sepanjang April 2015 terjadi inflasi atau kenaikan rata-rata harga barang dan jasa sebesar 0,36 persen. Untuk inflasi year on year (tahunan), BPS melaporkan sebesar 6,79 persen. Inflasi inti pada bulan April, BPS mencatat angka 0,24 persen. Angka inflasi paling tinggi terjadi pada harga yang diatur pemeirintah, yakni 1,88 persen karena naiknya harga bahan bakar minyak, tarif angkutan umum, dan LPG 12 kilogram.
  • Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,71 persen pada kuartal I 2015 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year). Artinya perekonomian nasional melambat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,14 persen secara tahunan.
  • Bank Sentral China (PBOC) memangkas bunga pinjaman dan simpanan masing-masing sebesar 25 bps. Bunga pinjaman menjadi 5,1% dan bunga simpanan menjadi 2,25%. Ini merupakan pemangkasan ketiga kali dalam enam bulan terakhir.
  • Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan RI pada April 2015 mencetak surplus 454,4 juta dollar AS, terdiri dari ekspor sebesar 13,08 miliar dollar AS dan impor sebesar 12,63 miliar dollar AS. Secara kumulatif Januari-April 2015, neraca perdagangan RI mengalami surplus perdagangan sebesar 2,77 miliar dollar AS, terdiri dari total ekspor sebesar 52,14 miliar dollar AS dan impor senilai 49,36 miliar dollar AS.
  • Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19 Mei 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50% dan Lending Facility pada level 8,00%. Keputusan tersebut sejalan dengan stance kebijakan moneter yang cenderung ketat untuk menjaga agar inflasi berada dalam sasaran 4±1% pada 2015 dan 2016.
  • Bank Indonesia melonggarkan kebijakan makroprudensial melalui revisi ketentuan GWM-LDR, ketentuan LTV untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), serta ketentuan pembayaran uang muka (down payment) untuk Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).
  • Lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P) yang menaikkan outlook rating Indonesia dari Stable menjadi Positive Outlook. Hal ini sekaligus mengafirmasi rating pada BB+. Perbaikan outlook ini mencerminkan kemungkinan Indonesia akan memperoleh peningkatan rating lagi dalam 12 bulan ke depan.
  • Gubernur The Fed Janet Yellen mengharapkan untuk menaikkan suku bunga tahun ini jika proyeksi ekonomi sesuai prediksinya. Hal ini akan dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga acuan secara bertahap.


Regi Fachriansyah/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Jul Allens

0 komentar:

Posting Komentar