PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) akan melakukan pembayaran bunga obligasi berkelanjutan I dengan tingkat bunga tetap tahap I tahun 2011 seri B sebesar Rp8.291.250.000. Adapun jumlah pokok obligasi sebesar Rp335.000.000.000 dengan tingkat bunga 9,9 persen per tahun dan wali amanat PT Bank Permata Tbk. Fitch Rating memberikan peringkat AA+ untuk obligasi yang jatuh tempo pada 29 Januari 2015 ini.
Sepanjang tahun 2014, BTPN berhasil mencetak perolehan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp1,8 triliun. Angka tersebut turun 13% dari tahun sebelumnya yang memperoleh Rp2,1 triliun. Penurunan bottom line kinerja tersebut disebabkan oleh pendapatan bunga bersih yang diperoleh perseroan menurun menjadi Rp6,5 triliun dari sebelumnya Rp7 triliun, sedangkan pendapatan operasional selain hunga mengalami sedikit peningkatan dari Rp400 miliar menjadi Rp734 miliar. Beban operasional selain bunga bersih BTPN menurun dari Rp4,17 triliun menjadi Rp4,11 triliun. Hal tersebut dipicu kenaikan bunga acuan sejak semester II-2013 lalu mengerek bunga deposito. Ini tentu berpengaruh pada cost of fund.
Sementara pada akhir 2014, penyaluran kredit perseroan tumbuh 13% (year-on-year/yoy) dari Rp 46,1 triliun pada 31 Desember 2013 menjadi Rp 52 triliun pada 31 Desember 2014. Pertumbuhan kredit BTPN ini sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan kredit industri yang berada pada kisaran 12%. Adapun rasio kredit bermasalah atau non performing loan gross di level 0,67% dan net di 0,38%. Aset perseroan pada 2014 meningkat dari Rp69 triliun menjadi Rp71,8 triliun.
Sementara Per 31 Desember 2014, Dana Pihak Ketiga (DPK) BTPN mencapai Rp 53,3 triliun, tumbuh 2% dari periode yang sama tahun lalu Rp 52,2 triliun. Sementara itu, pendanaan yang bersumber dari pinjaman bilateral dan obligasi sebesar Rp 8,2 triliun, meningkat 29% dari periode tahun sebelumnya sebesar Rp 6,36 triliun. Dengan demikian, pada 2014 total funding BTPN tumbuh 5% (yoy). Diversifikasi sumber pendanaan merupakan salah satu langkah yang diambil BTPN untuk meringankan biaya dana (cosf of fund).
Loan-to-Deposit Ratio BTPN meningkat menjadi 97,7 persen pada akhir tahun 2014, dibanding dengan 88,3 persen di akhir tahun sebelumnya, sementara penyisihan kerugian atas kredit yang tidak bisa ditagih meningkat menjadi Rp 742,1 miliar di tahun 2014, dari Rp 574,3 miliar pada tahun 2013. Net interest income pada tahun 2014 tercatat sebesar Rp 6,57 triliun, dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 7,05 triliun. Interest income meningkat 12,3 persen, sementara interest expense naik 13 persen.
Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Senin (29/6/15) saham BTPN dibuka pada level 3,500 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 3,550 dan bergerak dalam kisaran 3,400 – 3,605 dengan volume perdagangan saham mencapai 5,900 saham.
Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham BTPN sejak awal bulan Februari terlihat tengah dalam koreksi teknikal dan menembus level support 3500, terpantau indikator MA sudah bergerak turun dan pola Black Marubozu menembus Middle Bolinger Band. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak ke area jenuh beli setelah sebelumnya berada pada area tengah.
Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak turun yang menunjukan pergerakan BTPN dalam potensi dalam tekanan terbatas. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju BTPN masih akan dalam tren konsolidasi dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakan BTPN. Rekomendasai Trading pada target level support baru di level Rp3000 hingga target resistance di level Rp4000.
Regi Fachriansyah/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang
Editor: Asido Situmorang
0 komentar:
Posting Komentar