PT Agung Podomoro Land Tbk. tengah mencari pinjaman sekitar Rp2 triliun untuk mendanai belanja modal (capital expenditure/capex). Adapun untuk tahun ini kebutuhan capex perseroan mencapai Rp6,5 triliun. Dari dana tersebut, sekitar Rp2 triliun akan diperoleh dari pencarian dana kepada pihak ketiga.
Perseroan menyatakan hingga semester I/2015, penyerapan dana capex tersebut belum mencapai separuh dari target capex tahun ini. Pada kuartal I/2015 pemanfaatanya sudah sekitar 20%. Pemanfaatan dana capex ini sesuai dengan perolehan marketing sales perusahaan. Karena perolehan marketing sales lambat, penyerapan capex juga ikut lambat.
Pada awal tahun ini APLN mencatatkan penurunan perolehan marketing sales dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada kuartal I/2014 APLN mencatatkan marketing sales senilai Rp1,83 triliun, pada tahun ini turun 48,6% menjadi Rp939,7 miliar. Dengan begitu, APLN baru memperoleh 15% dari target marketing sales tahun ini yang mencapai Rp6,5 triliun.
APLN membukukan laba bersih naik tipis pada 2014. Laba bersih hanya naik 0,4 persen menjadi Rp 854,93 miliar pada 2014 dari periode 2013 sebesar Rp 851,43 miliar. Kenaikan laba bersih itu didukung dari penjualan dan pendapatan yang naik 8,06 persen menjadi Rp 5,29 triliun pada 2014 dari periode 2013 sebesar Rp 4,90 triliun. Beban pokok penjualan dan beban langsung naik menjadi Rp 2,64 triliun pada 2014 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,54 triliun.
Hal itu mendorong laba kotor naik 12,73 persen menjadi Rp 2,65 triliun pada 2014. Kenaikan laba bersih hanya naik tipis didorong kenaikan di pos beban. Sementara beban penjualan naik 3,61 persen dari Rp 398,11 miliar pada 2013 menjadi Rp 412,49 miliar. Beban umum dan administrasi naik 19,32 persen menjadi Rp 812,74 miliar pada 2014. Selain itu, beban bunga bunga naik menjadi Rp 613,84 miliar.
Meski demikian, perseroan mencatatkan kenaikan penghasilan bunga dari Rp 148 miliar pada 2013 menjadi Rp 220,56 miliar pada 2014. Melihat kinerja itu, laba per saham dasar hanya naik tipis menjadi Rp 41,72 pada 2014 dari periode 2013 sebesar Rp 41,53. Di pos liabilitas, perusahaan properti ini mencatatkan kenaikan terutama liabilitas jangka panjang. Total liabilitas naik 27,63 persen menjadi Rp 9,26 triliun pada 31 Desember 2014 dari periode 31 Desember 2013 sebesar Rp 7,25 triliun. Ekuitas naik menjadi Rp 8,46 triliun pada 31 Desember 2014. Perseroan mengantongi kas sebesar Rp 4,33 triliun pada 31 Desember 2014 dari periode 31 Desember 2013 sebesar Rp 3,17 triliun.
Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Rabu (8/7/15) saham APLN dibuka pada level 365 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 366 dan bergerak dalam kisaran 360 – 368 dengan volume perdagangan saham mencapai 5,6 juta saham.
Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham APLN sejak awal bulan April terlihat terus mengalami pergerakan melemah tertekan ke level support kuatnya, namun saat ini dalam potensi teknikal rebound terpantau indikator MA sudah bergerak naik dan pola White Marubozu menembus Middle Bolinger Band. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak ke area tengah setelah sebelumnya berada pada area jenuh jual.
Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak flat yang menunjukan pergerakan APLN dalam potensi menguat terbatas. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju APLN masih akan terbatas dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakan APLN. Rekomendasi Trading pada target level support di level Rp320 hingga target resistance di level Rp400.
Regi Fachriansyah/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang
Editor: Asido Situmorang
0 komentar:
Posting Komentar