Guna memenuhi aturan baru Bursa Efek Indonesia, Phillip Morris perusahaan rokok asal AS, berencana melepas sahamnya senilai US$1 miliar di PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Untuk memenuhi peraturan BEI tentang pelepasan saham minimal 7,5% ke publik yang harus dilaksanakan hingga 30 Januari 2016, Phillip Morris setidaknya harus melepas 5.68% saham miliknya sehingga saham Sampoerna yang beredar di pasar publik mencapai 7.5% dari total saham perseroan.
Adapun saat ini Phillip Morris memiliki 98,18 persen di HM Sampoerna atau hanya 1,82 persen milik publik. Sampoerna sendiri tercatat sebagai produsen rokok terbesar di Indonesia dengan memiliki market value senilai lebih dari US$23 miliar.
Sepanjang tahun 2014, HMSP mencatatkan pelemahan kinerja dengan menurunnya laba bersih perseroan sebesar 5,83 persen menjadi Rp 10,18 triliun dari perolehan 2013 mencapai Rp 10,81 triliun karena beban pita cukai naik. Adapun penjualan bersih Sampoerna pada 2014 sebenarnya menanjak menjadi Rp 80,69 triliun dari Rp 75,02 triliun di 2013. Namun, sayangnya beban pokok penjualan juga ikut meningkat menjadi Rp 60,19 triliun dari Rp 54,95 triliun.
Dari laporan arus kas, pembayaran cukai Sampoerna tercatat meningkat jadi Rp 40,17 triliun pada 2014, dari Rp 36,73 triliun pada 2013. Sementara itu, beban pita cukai tercatat naik menjadi Rp 34,71 triliun, dari Rp 30,50 triliun. Padahal, berdasarkan sifat, beban pita cukai merupakan yang terbesar nilainya. Hal itu membuat laba kotor anak usaha Philip Morris International, Inc. ini hanya naik tipis menjadi Rp 20,5 triliun pada 2014, dari Rp 20,07 triliun pada 2013. Sementara beban penjualan menanjak menjadi Rp 5,29 triliun dari Rp 4,02 triliun.
Lebih lanjut, laba sebelum pajak penghasilan pada akhirnya menurun jadi Rp 13,72 triliun, dari capaian 2013 sebesar Rp 14,5 triliun. Sementara, laba per saham dasar Sampoerna melemah menjadi Rp 2.323 dari sebelumnya Rp 2.468. Adapun hingga 31 Desember 2014, total aset Sampoerna menjadi Rp 28,38 triliun dari sebelumnya Rp 27,4 triliun. Liabilitas mencapai Rp 14,88 triliun dari Rp1 3,24 triliun dan ekuitas Rp 13,4 triliun dari Rp 14,1 triliun. Adapun dalam RUPS Sampoerna tahun ini, perseroan menyetujui pembagian dividen sebesar Rp4.273.425.000.000 atau Rp975 per lembar saham.
Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Selasa (7/7/15) saham HMSP dibuka pada level 72,000 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 71,100 dan bergerak dalam kisaran 72,000 – 74,500 dengan volume perdagangan saham mencapai 20,200 saham.
Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham HMSP sejak awal bulan April terlihat terus mengalami tekanan dan sempat bergerak menyentuh level support dan saat ini pergerakannya dalam konsolidasi dan berpotensi mengalami rebound terbatas, terpantau indikator MA sudah bergerak naik dan pola Morning Star Doji menembus Lower Bolinger Band. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak ke area jenuh jual setelah sebelumnya berada pada area tengah.
Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak flat yang menunjukan pergerakan HMSP dalam potensi rebound. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju HMSP masih akan dalam pergerakan terbatas dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakkan HMSP. Rekomendasi Trading pada target level support di level Rp71000 hingga target resistance di level Rp75000.
Regi Fachriansyah/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang
Editor: Asido Situmorang
0 komentar:
Posting Komentar