RALS Canangkan Buy Back Saham, Laju Sahamnya Cari Tumpuan Bangkit


PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) sahamnya sebanyak 567.680.000 saham atau sebesar 8,00 persen dari saham yang beredar. Adapun buyback saham ini akan dilakukan secara bertahap dengan waktu paling lama 18 bulan sejak di setujui dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Adapun RUPS untuk mendukung rencana buyback saham ini akan diadakan pada tanggal 16 September 2015 mendatang.

Guna mendukung rencana buyback sahamnya ini, perseroan akan menyiapkan dana sebanyak-banyaknya Rp400 miliar yang akan diambil dari saldo laba ditahan.Rencananya, saham-saham yang telah dibeli kembali (buyback) nantinya akan disimpan sebagai treasury stock untuk jangka waktu tidak lebih dari 3 tahun. Namun, saham hasil buyback ini juga dapat dijual kembali sewaktu-waktu apabila harga saham telah meningkat.

Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Senin (10/8/15) saham RALS ditutup turun 1,46% pada level 695 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 685 dan bergerak dalam kisaran 690 – 695 dengan volume perdagangan saham mencapai 243,600 saham.

Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham RALS sejak akhir tahun lalu terpantau mengalami pelemahan tajam dan saat ini berada dalam potensi pelemahan lanjutan. Terpantau indikator MA sudah bergerak naik dan pola Hammer terbentuk pada Lower Bolinger Band. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak ke area tengah setelah sebelumnya berada pada area jenuh jual.

Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak naik yang menunjukan pergerakan RALS dalam potensi dalam tekanan. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju RALS masih akan dalam penguatan terbatas dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakan RALS. Rekomendasai Trading pada target level support di level Rp660 hingga target resistance di level Rp850.


Regi Fachriansyah/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

0 komentar:

Posting Komentar