BBRI Tebar Obligasi Senilai 12 Triliun, Laju Sahamnya dalam Tekanan Lanjutan


PT Bank BRI Tbk (BBRI) akan melakukan Penawaran Obligasi Berkelanjutan I BRI senilai Rp12 triliun, yang untuk tahap awal perseroan akan melakukan Penawaran Obligasi Berkelanjutan I BRI tahap I senilai Rp3 triliun. Adapun obligasi tahap I ini terdiri dari tiga seri yakni seri A dengan masa 370 hari, seri B masa waktu 3 tahun, serta seri C masa waktu 5 tahun. BBRI menawarkan bunga Obligasi sekitar 8,10% hingga 9,60%.
Penerbitan obligasi ini sudah mendapatkan peringkat idAAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia yang berarti memiliki kemampuan yang kuat untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjang. Sementara masa penawaran awal dilakukan 3-12 Juni 2015 dengan masa penawaran pada 26 dan 29 Juni 2015, serta pencatatan di BEI pada 3 Juli 2015.
Hingga kuartal I tahun 2015, BBRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp6,10 triliun atau naik tipis 3,37% bila dibandingkan dengan laba bersih yang dibukukan pada periode serupa tahun lalu sebesar Rp5,90 triliun. Adapun peningkatan laba di periode tersebut didorong oleh meningkatnya pendapatan bunga bersih sebesar 8,24% menjadi Rp13,08 triliun dari periode serupa tahun lalu Rp12,08 triliun.
Sementara itu, laba operasional di kuartal I-2015 tercatat sebesar Rp7,29 triliun, naik 7,73% dari periode serupa tahun lalu Rp6,77 triliun, dan laba sebelum pajak naik menjadi Rp7,58 triliun dari periode serupa tahun lalu Rp7,37 triliun.
Dari sisi fungsi intermediasi, total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun selama kuartal I-2015 tercatat sebesar Rp587,73 triliun, masih lebih rendah dari DPK yang dihimpun sampai dengan akhir tahun 2014 sebesar Rp600,40 triliun. yang didorong oleh penurunan dana giro dan tabungan (cash account saving account/CASA) sebesar 5,6 persen menjadi Rp304 triliun. Sedangkan rasio dana pihak ketiga terhadap kredit (loan to deposit ratio/LDR) turun menjadi 80,47 persen pada akhir Maret 2015, dibandingkan 92,01 persen pada akhir Maret tahun 2014.
Adapun jumlah kredit yang disalurkan oleh BBRI turun 3,6 persen menjadi Rp477,89 triliun per akhir Maret 2015, dibandingkan akhir Desember 2014. Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BBRI pada kuartal pertama 2015 turun menjadi 7,57 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 9,06 persen. Namun, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) kotor BBRI pada akhir Maret 2015 justru melonjak menjadi 2,17 persen dari 1,78 persen. Adapun hingga Maret 2015 total aset Bank BRI tercatat mencapai Rp781,18 triliun, meningkat dari aset sebelumnya Rp778,02 triliun di akhir tahun lalu.
Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Rabu (3/6/15) saham BBRI dibuka pada level 11,650 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 11,725 dan bergerak dalam kisaran 11,325 – 11,725 dengan volume perdagangan saham mencapai 37,2 juta lembar saham.  
Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham BBRI sejak awal pekan lalu terpantau mengalami pelemahan tajam dan saat ini berada dalam potensi mencari titik tumpu untuk menutup gap pelemahan. Terpantau indikator MA sudah bergerak naik dan pola Harami terbentuk pada Lower Bolinger Band. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak ke area tengah setelah sebelumnya berada pada area jenuh jual.
Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak naik yang menunjukan pergerakan BBRI dalam potensi dalam tekanan. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju BBRI masih akan dalam penguatan terbatas dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakan BBRI. Rekomendasai Trading pada target level support di level Rp1100 hingga target resistance di level Rp12800.


Regi Fachriansyah/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Jul Allens


0 komentar:

Posting Komentar