GIAA Pesan 90 Armada Baru, Upaya Tinggalkan Level Support


PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dikabarkan tengah memesan 90 unit pesawat Boeing dan Airbus dengan nilai US$20 miliar setara dengan Rp266,4 triliun. Garuda memesan 60 unit pesawat baru dari Boeing senilai total US$10,9 miliar setara dengan Rp145,1 triliun. Sedangkan, maskapai badan usaha milik negara (BUMN) itu juga memesan 30 unit pesawat baru dai Airbus senilai lebih dari US$9 miliar setara dengan Rp119,8 triliun. Meski demikian, skema pembayaran dan sumber dana masih didiskusikan perseroan.

Garuda meneken nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Boeing untuk pemesanan 30 unit pesawat 787-9 Dreamliners seharga US$7,7 miliar, bersamaan dengan 30 unit pesawat berukuran lebih kecil 737 MAX 8s senilai US$3,2 miliar. Perseroan juga meneken letter of intent dengan Airbus untuk pembelian 30 unit pesawat berbadan lebar A350 dengan model terbaru pabrikan Eropa. Nilai kesepakatan mencapai lebih dari US$9 miliar.

Melihat kondisi keuangan perseroan, GIAA sebelumnya baru saja mendapatkan persetujuan dari pemegang sahamnya untuk menerbitkan sukuk global senilai US$ 500 juta atau setara dengan Rp 6,5 triliun untuk reproviling hutang. Persetujuan emisi global syariah global itu dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 15 Mei lalu.

GIAA memang telah lama berencana untuk menerbitkan sukuk global. Obligasi syariah tersebut direncanakan memiliki jangka waktu 5 tahun dengan tingkat suku bunga maksimum 6,9% per annum. Agar hal tersebut dapat terealisasi, GIAA akan mendirikan perusahaan di luar negeri sebagai penerbit sukuk. Bertindak selaku koordinator adalah National Bank of Abu Dhabi PJSC (NBAD) dengan joint structuring advisor NBAD dan Dubai Islamic Bank PJSC) (DIB). Kedua bank asal Timur Tengah tersebut juga bertindak selaku joint lead managers dan joint bookrunners dengan penambahan setelah berkonsultasi dengan manajemen GIAA selaku obligor.

Hasil penerbitan sukuk senilai US$ 500 juta tersebut akan digunakan untuk keperluan membiayai kegiatan usaha perseroan secara umum, termasuk pembiayaan kembali atau refinancing hutang perseroan yang ada saat ini.

Hingga Maret 2015, hutang bank GIAA mencapai $ 564,66 juta atau membengkak 649,78% dari periode Desember tahun lalu yang sebesar $ 75,31 juta. Kenaikan hutang tersebut diakibatkan oleh rencana perseroan yang akan segera menerbitkan obligasi syariah senilai $ 500 juta. Namun di sisi lain, GIAA berhasil menurunkan hutang usaha jangka pendeknya sebesar 14,89% menjadi $ 183,46 juta dari periode Desember lalu yang mencapai $ 215,58 juta.

Selain itu, pinjaman jangka panjangnya setelah dikurangi bagan yang jatuh tempo dalam satu tahun tercatat mengalami penurunan sebesar 44,91% menjadi $ 246,05 juta dari periode Desember lalu sebesar $ 446,69 juta. Hutang obligasi perseroan juga berhasil ditekan sebesar 4,91% menjadi $ 151,90 juta dari Desember lalu yang mencapai $ 159,75 juta. Di samping itu, beban akrual GIAA mengalami penurunan sebesar 8,08% menjadi $ 206,44 juta dari yang sebelumnya $ 224,59 juta. Hutang pajak perseroan naik sebesar 6,93% menjadi $ 19,73 juta dari yang sebelumnya $18,45 juta.

Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Senin (16/6/15) saham GIAA dibuka pada level 444 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 443 dan bergerak dalam kisaran 439 – 449 dengan volume perdagangan saham mencapai 1,12 juta lembar saham.                  

Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham GIAA sejak awal bulan Januari terlihat terus mengalami pelemahan dan saat ini dalam upaya menemukan momentum rebound. Terpantau indikator MA sudah bergerak naik dan pola Shooting Star menembus Middle Bolinger Band. Selain itu indikator Stochastic mulai bergerak ke area tengah.

Sementara indikator Average Directional Index terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak naik yang menunjukan pergerakan GIAA dalam potensi pergerakan terbatas. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju GIAA masih akan dalam tren menguat dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakan GIAA. Rekomendasai Trading pada target level support di level Rp420 hingga target resistance di level Rp530.





Regi Fachriansyah/VMN/VBN/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

0 komentar:

Posting Komentar