IHSG 21 AGUSTUS : BURSA REGIONAL TERTEKAN DATA PMI TIONGKOK, IHSG IKUT DITUTUP TERJEREMBAB


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat penutupan perdagangan hari ini (21/8) tercatat turun sebesar 2.39 persen ke level 4,335.95. Sementara saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 mengalami pelemahan sebesar 2.77 persen ke level 727.23. Sepanjang perdagangan IHSG sempat menyentuh level terendah 4,335.95 dan level tertinggi 4,401.67.
Pada perdagangan siang ini tercatat 38 saham menguat, sementara 278 saham melemah dan sisanya stagnan. Volume transaksi sore ini mencapai 5.3 miliar lot saham dengan nilai transaksi Rp5.8 triliun dan transaksi sebanyak 190.197 kali.
Secara sektoral, tercatat semua sektor mengalami pelemahan yang dipimpin oleh Agrikultur dan Properti yang masing-masing mengalami pelemahan sebesar 1.94% dan 1.50%. Terpantau saham-saham yang menjadi penekan IHSG adalah BBCA, BBRI, LPPF, MIKA dan SMGR.
Analyst Vibiz Research Center melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam tekanan reaksi pasar atas Indikator ekonomi yang dirilis oleh Caixin pada data Caixin General Manufacturing PMI Flash dibulan Agustus, menunjukan penurunan yang cukup signifikan menjadi 47.1 basis poin dari hasil rilis sebelumnya pada 47.8 basis poin. Pada hari ini bursa Asia ditutup mengalami pelemahan signifikan.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 Agustus 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 7,5 persen, dengan suku bunga deposit facility 5,50 persen dan lending facility pada level 8,00 persen. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya untuk menjaga agar inflasi berada pada kisaran sasaran inflasi 4 plus minus 1 persen di 2015 dan 2016.
Selain itu Badan Pusat Statistik hari ini, Selasa (18/8/2015), melaporkan aktivitas perdagangan internasional Indonesia sepanjang Juli menghasilkan surplus US$1.332 juta atau naik dari surplus US$528 juta juta pada Juni. Nilai ekspor Indonesia sepanjang Juli US$11.408, 5 juta, sedangkan nilai impor senilai US$10.076,5 juta. Ini adalah surplus perdagangan terbesar sejak Januari 2014. Surplus yang besar ini disebabkan penuruan impor lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspor.

Regi Fachriansyah/VMN/VB/ Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang

0 komentar:

Posting Komentar