Pertengahan tahun ini PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mulai menghadapi perlambatan pada penjualan pemasaran (marketing sales) untuk unit property dan ini tentu saja akan sangat mempengaruhi akan perolehan laba bersih tahun ini. Pemicu penurunan penjualan ini dipicu oleh lambatnya peluncuran produk baru terkait perlambatan ekonomi nasional dan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Bila dikaitkan dengan rencana Summarecon menerbitkan surat utang senilai Rp. 3 triliun sepanjang tahun 2015-2017 ini akan menjadi sentimen negatif terhadap perseroan. Dan hal ini akan menaikkan rasio utang kotor perseroan yang menjadi 1 kali dan total utang atau akan diperkirakan meroket naik menjai Rp. 7,5 triliun pada 2017.
Sebagai bagian dari keputusan Manajemen Perseroan untuk kebali merevisi penurunan target marketing sales dari Rp 5,5 triliun menjadi Rp.4,5 triliun ditambah dengan rencana penerbitan obligasi senilai Rp. 3 triliun ini akan mendorong Majemen Perseroan untuk dapat memangkas target EPS perseroan sebesar 2-17% untuk periode 2015-2017.
Dengan adanya penerbitan surat utang ini akan meningkatkan beban bunga sehingga dapat menekan laba bersih Summarecon dalam waktu ke depan dan dana dari hasil emisi obligasi akan dimanfaatkan untuk membiayai penambahan cadangan lahan.
Dilihat dari laporan keuangan sepanjang Q1 2015 SMRA membukukan laba bersih pada Q1 sebesar Rp.247,24 miliar atau Rp. 17 per saham. Bila dibandingkan laba bersih pada tahun sebelumnya menunjukkan penurunan kinerja yaitu Rp.275,05 miliar atau Rp.19 per saham. Ini dikarenakan melonjaknya beban keuangan perseroan dari Rp. 21,74 miliar pada Q1 2014 menjadi Rp.91,61 miliar pada Q1 2015. Ada kenaikan pada beban usaha sebesar Rp.353,29 miliar menjadi Rp.387,82 miliar. Dan untuk beban pokok pendapatan mengalami penurunan dari Rp. 439,12 menjadi Rp. 362,82 miliar.
Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham pada Rabu (09/09/15) saham SMRA ditutup turun 5% pada level 1.355 setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya berada pada level 1.330 dan bergerak dalam kisaran 1,315-1.380 dengan volume perdagangan saham mencapai 63.263.100 juta lembar saham.
Analyst Vibiz Research Center melihat sisi indikator teknikal, harga saham SMRA sejak awal September ini berada dalam tren bearish. Terpantau indikator MA sudah bergerak turun. Selain itu indikator Stochastic bergerak pada area jenuh beli. Diperkirakan saham SMRA masih berpoyensi melanjutkan pelemahan terbatas, sambil menunggu fundamental positif yang dapat menguatkan SMRA. Rekomendasi trading SMAR ada di kisaran Support Rp1310 dan kisaran Resistance Rp1345.
Connie Rineke/VBN/VMN/Analyst Vibiz Research Center
Editor : Asido Situmorang
Editor : Asido Situmorang

0 komentar:
Posting Komentar